MITOS dan FAKTA “CEREBRAL PALSY”

Informasi yang salah dan kesalahpahaman tentang Cerebral Palsy (CP) biasa terjadi. Karena CP memiliki berbagai gejala dan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

lima mitos tentang Cerebral Palsy yang perlu diperhatikan:

1) Mitos: Cerebral Palsy adalah penyakit.
FAKTA: CEREBRAL PALSY TERJADI SEBAGAI AKIBAT CEDERA OTAK ATAU MALFORMASI.

Penyakit biasanya disebabkan oleh genetika, virus, atau bakteri. Namun, CP paling sering akibat cedera otak, biasanya selama kehamilan, kelahiran, atau masa pasca kelahiran prematur.

2) Mitos: Cerebral Palsy menular.
FAKTA: ANDA TIDAK BISA “TERTULAR” CEREBRAL PALSY.

Cerebral Palsy bukan flu atau flu biasa; Anda tidak bisa tertular ketika bersentuhan dengan orang CP. Meskipun Cerebral Palsy memiliki banyak penyebab yang berbeda, bayi tidak akan mengalami CP meski berada di sekitar orang CP.

3) Mitos: CP diakibatkan karena sawan orang meninggal
FAKTA : PENYEBAB CP KARENA ADANYA KERUSAKAN OTAK YANG TERJADI PRE, NATAL / POST NATAL.

Tidak ada hubungan antara sawan orang meninggal atau sawan manten dengan terjadinya CP.

4) Mitos: Orang dengan CP tidak akan pernah bisa berjalan atau berbicara.
FAKTA: BEBERAPA ORANG DENGAN CEREBRAL PALSY BELAJAR BERJALAN DAN BERBICARA.

Meski banyak kita jumpai orang CP menggunakan kursi roda, namun banyak juga dari mereka yang belajar berjalan. Buktinya sudah ada dan banyak anak CP yang mampu berjalan dan berbicara.

5) Mitos: Orang dengan Cerebral Palsy tidak akan bisa bahagia.
FAKTA: PASIEN CEREBRAL PALSY BISA MENJALANI HIDUP BAHAGIA.

Meskipun kehidupan bahagia yang terpenuhi mungkin terlihat berbeda bagi orang-orang dengan Cerebral Palsy. Namun orang dengan CP mampu mencintai, produktifitas, dan bahagia.

Terapi Wicara pada Anak Terlambat Bicara

Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 – 10% pada anak sekolah. Anak yang mengalami keterlambatan
bicara dan bahasa beresiko mengalami kesulitan belajar, kesulitan membaca dan menulis dan akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang secara menyeluruh, hal ini dapat berlanjut sampai usia dewasa muda. Selanjutnya orang dewasa dengan pencapaian akademik yang rendah akibat keterlambatan bicara dan bahasa, akan mengalami masalah perilaku dan penyesuaian psiko-sosial.

Melihat sedemikian besar dampak yang timbul akibat keterlambatan bahasa pada anak usia pra sekolah maka sangatlah penting untuk mengoptimalkan proses perkembangan bahasa pada periode ini. Deteksi dini keterlambatan dan gangguan bicara usia prasekolah adalah tindakan yang terpenting untuk menilai tingkat perkembangan bahasa anak, sehingga dapat meminimalkan kesulitan dalam proses belajar anak tersebut saat memasuki usia sekolah. Beberapa ahli menyimpulkan perkembangan bicara dan bahasa dapat dipakai sebagai indikator perkembangan anak secara keseluruhan, termasuk kemampuan kognisi dan kesuksesan dalam proses belajar di sekolah. Hasil studi longitudinal menunjukkan bahwa keterlambatan perkembangan bahasa berkaitan dengan intelegensi dan membaca di kemudian hari.

Penanganan keterlambatan bicara memerlukan waktu yang agak lama serta kerja sama yang baik dari orangtua. Beberapa anak tidak memperoleh penanganan dengan baik sampai masalah perkembangan itu menjadi sesuatu yang tidak dapat ditangani atau berdampak secara signifikan terhadap hal-hal lain. Keterlambatan bicara sering disertai gangguan lainnya sesuai dengan penyakitnya seperti hiperaktif, tingkah laku yang aneh, sulit untuk diajak kerja sama, maka penanganannya harus dimulai dengan memperbaiki perilakunya. Setelah itu baru bisa diberikan terapi yang mendukung seperti terapi wicara, terapi okupasi, terapi sensori integrasi dll. Penanganannya memerlukan kerja sama dari berbagai ahli seperti fisioterapis, ahli terapi okupasi selain tentunya ahli terapi wicara.

Dalam penanganan anak berkebutuhan khusus dilakukan terapi wicara dan sensori integrasi. Terapi wicara di gunakan untuk menangani anak dengan gangguan komunikasi hal ini sering dideteksi terlambat bicara. Untuk itu diperlukan terapi wicara de-ngan melatih wicara anak agar anak dapat berkomunikasi dengan masyarakat. Terapi ini untuk melatih anak terampil mempergunakan sistem encoding berupa kemampuan mempergunakan organ untuk bicara, menggerakkan lengan tangan dan tubuh yang lain, serta ekspresi wajah. Sedangkan dalam pengetahuan anak diharapkan mampu mengerti tentang cara mengucapkan seluruh bunyi bahasa dengan benar, mengevaluasi bicaranya sendiri berdasarkan pengamatan visual, auditori, dan kinestetis. Sementara untuk sikap diharapkan anak berperilaku baik terhadap orang lain sehingga emosi anak berkembang seimbang.

Terapi sensory integrasi adalah proses neurological yang mengorganisasikan sensori dari tubuh seseorang dan dari ling-kungan. Pengorganisasian ini akan memungkinkan tubuh meres-pon lingkungannya secara efektif. Terapi ini juga mengintegra-sikan informasi sensori yang akan digunakan melalui sensori (sentuhan, kesadaran, gerakan tubuh, keseimbangan dan gravitasinya, pengecapan, penglihatan dan pendengaran), memori dan knowledge. Semua itu disimpan di otak untuk menghasilkan respon bermakna.

Sunanik. (2013). Pelaksanaan Terapi Wicara dan Terapi Sensori Integrasi pada Anak Terlambat Bicara Jurnal Pendidikan Islam. STAIN Samarinda.