Kenali Apa itu tonus otot dan latihan yang relevan untuk anak

Apa itu tonus otot?

  • Jumlah ketegangan dalam otot saat istirahat
  • Semua otot mempertahankan tingkat ketegangan/ketahanan dalam peregangan saat otot sedang santai (inilah yang memungkinkan kita merespon rangsangan/reflek bergerak dengan cepat dan mudah saat diperlukan)
  • Tonus otot kita dapat berubah sepanjang hari
  • Hangguan pada tonus otot disebabkan oleh ketidakseimbangan pesan yang dikirim oleh otak untuk mengendur atau mengencangkan otot
  • Gangguan pesan ini dapat menyebabkan : 1) Hipotonus, 2) Untuk mengecilkan tonus saat istirahat, otot dan sendi mungkin terasa ‘terkulai’, 3) Ada terlalu banyak pesan yang menyuruh otot untuk rileks, 4) Sering muncul pada anak-anak, sehingga akan mengalami kesulitan dalam mempertahankan kendali badan dan kepala

Bagaimana kita bisa mengatur tonus otot?

  • Meningkatkan kekuatan otot
  • Latihan dan dorongan untuk mempertahankan posisi fungsional
  • Hipertonus
  • Terlalu banyak tonus otot saat istirahat = otot dan sendi mungkin terasa ‘kaku’
  • Ada terlalu banyak pesan yang menyuruh otot berkontraksi
  • Sering terjadi pada anak-anak yang akan mengalami kesulitan merangkak atau berjalan karena tungkai kaku

Bagaimana kita bisa mengatur tonus otot?

  • Memperbaiki kekuatan otot pada otot kaku dan berlawanan
  • Latihan dan dorongan untuk mempertahankan posisi dengan membenarkan posisi sendi.
  • Peregangan aktif/mobilisasi.

Edukasi Fisioterapi pada Anak

Fisioterapi adalah prosedur medis yang dilakukan untuk menstabilkan atau memperbaiki gangguan fungsi alat gerak yang terganggu. Fisioterapi pada anak biasanya dibedakan berdasarkan indikasinya. Contohnya adalah fisioterapi untuk bayi lahir dengan risiko tinggi (risti), anak dengan cerebral palsy, spina bifida, gangguan pernapasan, anak dengan gangguan ortopedik, cedera saat olahraga, hingga anak dengan retardasi mental;

Dokter biasanya merekomendasikan fisoterapi jika bayi atau balita Anda memiliki beberapa hal sebagai berikut:

  • Gagal memenuhi tonggak perkembangan (milestone) selama tahun pertama kehidupan
  • Hanya menumpu pada satu sisi tubuh dan/atau memiringkan kepala ke satu sisi saja
  • Memiliki postur yang buruk
  • Telah didiagnosis dengan cerebral palsy, torticollis, atau gangguan neuromuskular lainnya
  • Memiliki tonus otot yang kaku
  • Memiliki mobilitas sendi yang berlebihan atau terbatas
  • Memiliki kesulitan dengan keseimbangan dan koordinasi tubuh

Fisioterapi anak bertujuan untuk membantu mengobati anak dan remaja dengan berbagai masalah pada kesehatan fisiknya. Selain itu, terapi ini juga dilakukan untuk membantu memberikan dukungan pada keluarga dan orangtua yang memiliki anak dengan berbagai masalah fisik.

Terapi fisik ini juga dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan yang menghambat gerak tubuh seperti:

  1. Cerebral palsy

Cerebral palsy adalah sekelompok kondisi yang memengaruhi otot dan juga saraf. Kondisi ini bukan bawaan lahir tetapi berkembang dan dimulai dari sejak bayi lahir.

Berbagai gejala cerebral palsy seperti lengan dan kaki bergerak tidak normal, terlambat bicara dan berjalan, sulit makan, bentuk otot yang buruk di usia awal kehidupan sehingga membuat postur tubuh juga abnormal, koordinasi gerak yang buruk, tubuh kaku, dan kejang otot. Melakukan fisioterapi anak bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah kesehatan yang satu ini.

  2. Global development delay

Global development delay (GDD) adalah keterlambatan perkembangan anak dari segi emosional, mental, dan juga fisik. Biasanya, anak dengan GDD mengalami masalah dalam pengetahuan bahasa dan cara pengucapan, penglihatan, keterampilan gerak, keterampilan sosial dan emosional, serta kemampuan berpikir. Melalui fisioterapi anak, GDD bisa diatasi untuk meningkatkan perkembangannya.

  3. Down’s Syndrome

Down syndrome adalah kondisi genetik yang menyebabkan gangguan belajar pada anak dan kelainan fisik tertentu, seperti kepala berukuran kecil, berat dan tinggi badan yang lebih rendah dibanding rata-rata, otot kurang terbentuk dengan sempurna, dan fitur wajah yang datar.

Kondisi ini akan berlangsung seumur hidup. Akan tetapi, dengan perawatan yang tepat, anak down syndrome dapat tumbuh dengan sehat bahkan melakukan berbagai hal produktif seperti orang sehat lainnya. Salah satu perawatan yang bisa Anda coba terapkan ialah fisioterapi anak.

Program fisioterapi anak biasanya dimasukkan ke dalam aktivitas hariannya. Terapis juga akan memberikan pengetahuan sederhana dan pelatihan untuk keluarga agar dapat membantu serta mendorong anak untuk berlatih program fisioterapi yang telah dibuat.

Permasalahan pada Anak Down Syndrome

Down syndrome merupakan suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan oleh adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan, sehingga terjadi kelebihan kromosom 21, dalam hal ini 3 kromosom 21 menjadikan jumlah kromosom menjadi 47. Sedangkan pada jumlah yang normal, hanya terdapat 2 kromosom 21 sehingga kromosom berjumlah 46 (Davidson dkk, 2006). Di Indonesia pada tahun 2015 sendiri terdapat sekitar 300 ribu kasus down syndrome yang meningkat dibandingkan 15 tahun yang lalu.

Anak down syndrome biasanya memiliki ciri fisik khas dan mudah dikenali. Selain ciri fisik, karakter khas yang dimiliki anak down syndrome yaitu mengalami retardasi mental dan memiliki taraf kecerdasan yang biasanya tergolong idiot dan imbesil (White, 1981). Anak down syndrome juga ada yang mengalami gangguan atau bahkan kerusakan pada system organ tubuh yang dapat menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, pernafasan serta gangguan pada jantung yang dapat berakibat fatal.

Dampak dari faktor kecerdasan yang dimiliki anak down syndrome akan memengaruhi perkembangan lainnya dan salah satunya adalah perkembangan bahasa, anak down syndrome akan mengalami kesulitan untuk mengikuti instruksi dan mengekspresikan kebutuhannya secara verbal. Anak biasanya berkomunikasi dengan kalimat yang sederhana. Anak juga mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kalimat secara jelas, sehingga seringkali orang lain kurang mengerti dengan apa yang diungkapkan oleh anak.

Perkembangan motorik anak down syndrome baik kasar maupun halus mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan anak seusianya. Akibat yang muncul dari keterlambatan perkembangan motorik, bahasa dan kecerdasan anak down syndrome adalah hambatan dalam melakukan tiga area okupasi terapi yaitu: (1) activity daily living (aktivitas keseharian) seperti makan, mandi, minum, berhias dan lain-lain; (2) productivity (produktivitas) seperti belajar, menulis, bermain dan lain-lain; (3) leisure (pemanfaatan waktu luang) seperti olahraga, bermain dan lain-lain.

Melatih menggunakan alat tulis seperti pensil, crayon, spidol atau pulpen adalah cara yang paling tepat untuk memulai mengajarkan anak dengan kegiatan menulis. Menulis adalah suatu aktivitas yang kompleks yang mencakup gerakan tangan, jari dan mata secara terintegrasi. Banyak sekali kemampuan yang terlibat ketika anak sedang meronce, menggunting, menggambar ataupun menulis kata sederhana. Selain harus mempunyai keterampilan motorik halus yang baik, anak membutuhkan penglihatan yang cukup jelas, serta kemampuan otak untuk mengkoordinasikan mata dan tangan untuk menghasilkan coretan bermakna/tulisan.

Sebelum anak siap untuk menulis, ada baiknya guru memperkenalkan kegiatan untuk mendukung kemampuan menulis atau yang biasanya disebut kegiatan pra menulis yaitu anak dapat membuat bentuk dengan menggunakan alat tulis sesuai dengan ruang lingkup perkembangan (Departemen Pendidikan Kebudayaan 1997:4) mencakup:

  1. Menarik garis datar, tegak, miring kanan, miring kiri, lengkung
    berulang-ulang dengan alat tulis secara bertahap.
  2. Mencontoh bentuk silang (+ dan x) lingkaran, bujur sangkar, dan segi tiga secara bertahap.
  3. Mencontoh angka 1-10.
  4. Mencontoh bentuk-bentuk sederhana dengan diperlihatkan
    sekejap.
  5. Menggambar bentuk silang, lingkaran dan segitiga secara
    bertahap.
  6. Menggambar bebas dengan bentuk titik, garis lingkaran, segi
    empat, segitiga, dan bujur sangkar yang tersedia.

Hal tersebut adalah kemampuan yang harus dicapai anak usia prasekolah, dengan stimulasi yang baik dan berkasinambungan tentunya kemampuan anak dalam menulis akan semakin terampil dan antusias dalam menulis. Komponen yang dibutuhkan saat menulis adalah postur yang bagus saat duduk, kontrol leher yang kuat, bahu yang kuat untuk memfasilitasi gerakan lengan dan pergelangan tangan, manipulasi jari, visual spatial yang baik, visual field yang baik, persepsi yang baik, kontrol gerakan baik, atensi dan konsentrasi yang baik, praksis yang baik, koordinasi mata tangan yang baik.

Komponen yang dibutuhkan saat menulis adalah postur yang bagus saat duduk, kontrol leher yang kuat, bahu yang kuat untuk memfasilitasi gerakan lengan dan pergelangan tangan, manipulasi jari, visual spatial yang baik, visual field yang baik, persepsi yang baik, kontrol gerakan baik, atensi dan konsentrasi yang baik, praksis yang baik, koordinasi mata tangan yang baik.

Pada kondisi down syndrome pasien belum mampu melakukan
aktivitas menulis karena tonus otot pada bahu yang masih lemah sehingga
saat menulis gerakan pergelangan tangan belum leluasa. Pasien belum
mampu mempertahankan posisi tangan di atas meja dan posisi badan yang
tegak saat menulis. Pasien belum menguasai kemampuan pra-menulis.

CTEV (Congenital Talipes Equinovarus)

Congenital Talipes Equinovarus atau di sebut juga dengan clubfoot adalah salah satu kelainan bawaan pada kaki. Derajat kelainan mulai dari ringan, sedang, dan berat yang dilihat dari rigiditas atau kekakuan dan dari penampilannya. Pengenalan dan penanganan secara diri pada CTEV sangat penting, dimana “Golden Period” untuk terapi adalah tiga minggu setelah lahir. Dikarenakan, pada umur kurang dari tiga minggu ligamen-ligamen pada kaki masih lentur sehingga masih dapat di manipulasi.

Angka kejadian CTEV dengan perbandingan 2:1 per 1000 kelahiran, dimana anak laki-laki kebih sering terkena CTEV daripada perempuan. Umumnya, pada orang tua normal akan mempunyai resiko punya anak dengan CTEV sebesar 9%. Sedangkan, apabila orang tua terkena maka kemungkinan anak terkena sebesar 30%.

Penyebab CTEV menurut White (1929), penyebab CTEV adalah kerusakan nervus peroneus oleh tekanan di dalam uterus. Menurut Midelton (1934), oleh karena tidak adanya otot yang seimbang karena dysplasia peroneal dan menurut Bechtol dan Mossman (1950), disebabkan oleh pemendekan relatif dari serabut otot yang mengalami degenerasi di dalam uterus.

Penanganan pada CTEV harus sesegera mungkin setelah anak lahir, dengan melakukan elongasi jaringan lunak yang mengalami kontraktur dan kemudian dipertahankan dengan pemasangan gips secara serial selama 6 minggu dan gips diganti setiap minggu. Dari 6 minggu sampai 12 minggu dipasang splint clubfoot tipe Denis Brown. Setelah penderita waktunya berjalan setiap malam dipasang splint sepatu Denis Brown dan siang hari memakai sepatu outflare sampai usia prasekolah. Dari serial terapi tersebut yang paling penting adalah tahap pertama yaitu elongasi jaringan lunak yang mengalami kontraktur dengan manipulasi pasif.

REFLEKS PRIMITIF

Refleks primitif adalah respons motorik involunter yang berasal dari batang otak yang mulai muncul saat usia kehamilan 25 minggu dan sepenuhnya terbentuk setelah lahir pada bayi aterm. Refleks primitif yang tidak muncul saat usia seharusnya, menetap atau muncul kembali pada usia yang tidak seharusnya, dan muncul asimetris adalah penanda klinis penting dari berbagai gangguan neurologi dan perkembangan bayi. Pemeriksaan refleks primitif terdiri dari beberapa macam, antara lain :

  1. Palmar Grasp Reflek (lahir-3 bulan)

Ini terjadi pada bayi ketika jari kita menyentuh telapak tangannya, maka ia pun akan merespons dengan cara menggenggam secara kuat dan kekuatannya akan meningkat ketika jari akan ditarik kembali dan meluruskan lengan bawahnya.

  • ATNR : Asymmetric tonic neck reflex (akan lebih jelas pada usia 4 sampai 5 minggu)

Ini terjadi saat bayi ditidurkan, kepala digerakkan ke satu sisi, kanan atau kiri. Secara refleks, tangan dan kaki di satu sisi akan bergerak lurus mengikuti arah kepala, sedangkan tangan dan kaki lainnya seperti melipat.

  • STNR : Symmetrical tonic neck reflex (akan lebih jelas pada usia 4 sampai 5 minggu)

terjadi saat kepala menunduk, tangan refleks melipat, sedangkan kaki bayi lurus.

  • Moro Refleks (usia 0-4 bulan)

Kepala bayi dipegang dengan tangan kemudian secara tiba-tiba jatuhkan pegangan kepala bayi tetapi tidak ditekan. Ketika anak terkejut karena hentakan maka kedua tangan serta kakinya akan menangkup dalam posisi memeluk untuk melindungi diri, jemarinya pun juga ikut menggenggam.

  • Plecing Reaction (ada pada usia 1-3 bulan, akan hilang saat anak udah mulai bisa berjalan)

Angkat anak dengan posisi berdiri dan pegang anak pada bagian dadanya sehingga bagian belakang / depan menyentuh meja maka anak akan berusaha meletakan kakinya diatas meja.

  • Rooting (dari lahir-3 bulan)

Terjadi ketika pipi bayi diusap atau dibelai lembut pada bagian pinggir mulutnya. Sebagai respons, ia pun memalingkan kepalanya ke arah sentuhan tersebut sambil membuka mulut. Ketika dirangsang dibawah mulut maka anak akan membuka mulut dan berusaha menghisap jari tersebut.

  • Supporting Refleks (secara bertahap hilang pada usia 2-6 bulan)

Bayi dipegang pada bawah ketiaknya dalamposisi tegak (pastikan kepalanya tertopang dg baik) kaki disentuhkan pada lantai. Maka reaksi anak akan memposisikan dirinya berdiri di atas lantai.

  • Primary Stepping (bervariasi mulai dari lahir-3 bulan)

Bayi Diposisikan berdiri dan diarahkan untuk melangkah. Maka reaksi bayi akan berjalan ritmik. Pada bayi mature maka ia akan berjalan dengan tumit dan pada bayi premature akan berjalan dengan ujung jari / berjinjit.

  • Neck righting
  • body on head  (lahir sampai 4 bulan)

Bayi diposisikan terlentang kemudian kepala bayi digerakan berputar dengan tangan secara hati-hati ke salah satu sisi kanan/kiri maka seluruh tubuh akan berputar secara bersamaan. 

  • body on body  (mulai usia 4 bulan)

Bayi diposisikan terlentang kemudian gerakan kaki bayi digerakan berputar dengan tangan secara hati-hati ke salah satu sisi kanan/kiri. Maka tubuh akan berputar mengikuti kepala per bagian mulai dari kepala, shoulder, trunk,  dan pelvis.

FISIO CARE Menyelenggarakan Bincang Online “Kenali & Pahami Masa Pubertas pada Anak Berkebutuhan Khusus”

Assalamualaikum wr. wb, salam sejahtera.

FISIO CARE “Optimalisasi & Rehabilitasi Tumbuh Kembang Anak”

Menyelenggarakan Bincang Online Kenali & Pahami Masa Pubertas pada Anak Berkebutuhan Khusus.

yang akan diselenggarakan pada :

📌 Hari, tanggal : Sabtu, 21 November 2020
⏰ Waktu. : 09.00 – Selesai WIB
🖥 Aplikasi : Zoom meeting

✅ PEMBICARA :
Melati Ismi Hapsari, S.Psi., M.Psi.
✔️(Dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto)
✔️(Psikolog)

✅ MODERATOR :
Siti Hafsoh, A.Md. FT.
(Fisioterapis – Fisio Care)

LINK PENDAFTARAN
👉 bit.ly/webinar-fc1
👉 bit.ly/webinar-fc2
🔖 (pilih salah satu link tersebut)

Notice
🔴 Gratis
🔴 Kuota terbatas
🔴 Mendapatkan e-Sertifikat
🔴 Live Zoom Meeting & YouTube

More Informasi :
0812-8064-8394 (WA Only)

Terimakasih 🙏
Wsssalamualaikum wr. wb

Kelainan Bawaan pada Kaki “CTEV (Congenital Talipes Equinovarus)”

Congenital Talipes Equinovarus atau di sebut juga dengan clubfoot adalah salah satu kelainan bawaan pada kaki. Derajat kelainan mulai dari ringan, sedang, dan berat yang dilihat dari rigiditas atau kekakuan dan dari penampilannya. Pengenalan dan penanganan secara diri pada CTEV sangat penting, dimana “Golden Period” untuk terapi adalah tiga minggu setelah lahir. Dikarenakan, pada umur kurang dari tiga minggu ligamen-ligamen pada kaki masih lentur sehingga masih dapat di manipulasi.

Angka kejadian CTEV dengan perbandingan 2:1 per 1000 kelahiran, dimana anak laki-laki kebih sering terkena CTEV daripada perempuan. Umumnya, pada orang tua normal akan mempunyai resiko punya anak dengan CTEV sebesar 9%. Sedangkan, apabila orang tua terkena maka kemungkinan anak terkena sebesar 30%.

Penyebab CTEV menurut White (1929), penyebab CTEV adalah kerusakan nervus peroneus oleh tekanan di dalam uterus. Menurut Midelton (1934), oleh karena tidak adanya otot yang seimbang karena dysplasia peroneal dan menurut Bechtol dan Mossman (1950), disebabkan oleh pemendekan relatif dari serabut otot yang mengalami degenerasi di dalam uterus.

Penanganan pada CTEV harus sesegera mungkin setelah anak lahir, dengan melakukan elongasi jaringan lunak yang mengalami kontraktur dan kemudian dipertahankan dengan pemasangan gips secara serial selama 6 minggu dan gips diganti setiap minggu. Dari 6 minggu sampai 12 minggu dipasang splint clubfoot tipe Denis Brown. Setelah penderita waktunya berjalan setiap malam dipasang splint sepatu Denis Brown dan siang hari memakai sepatu outflare sampai usia prasekolah. Dari serial terapi tersebut yang paling penting adalah tahap pertama yaitu elongasi jaringan lunak yang mengalami kontraktur dengan manipulasi pasif.

Mengenal STRABISMUS

Strabismus juga dikenal dengan sebutan mata juling. Ciri-ciri mata juling akan tampak bila kedua mata tidak tertuju pada satu objek sehingga satu mata lurus ke depan dan mata lainnya menyimpang dari posisi yang seharusnya. Keadaan ini bukan haya terjadi pada anak-anak namun dapat ditemukan pada berbagai usia, baik pria maupun wanita. Juling bersifat keturunan, namun meskipun tidak ada riwayat di dalam keluarga, juling dapat terjadi. Mata juling dapat bersifat horizontal, yaitu satu mata ke dalam atau satu mata ke luar, dan dapat juga bersifat vertikal yaitu satu mata lebih tinggi atau lebih rendah dari mata yang lain. Selain itu, juling dapat bersifat konstan, yaitu tampak setiap saat, atau timbul pada keadaan-keadaan tertenu, seperti bila anak sedang sakit, melamun lihat jauh atau lelah.

 3 Hal yang terjadi pada Juling Konstan:

  1. Ambliopia atau mata malas

Bila anak menderita juling yang konstan maka matanya yang menyimpang umumnya tidak digunakan untuk melihat dengan baik. Hal ini mengakibatkan mata tersebut mengalami penurunan tajam penglihatan (mata malas).

2. Penglihatan Binokular Buruk

Penglihatan binocular adalah kemampuan mata untuk melihat lebih dalam (depth perception) atau tiga dimensi (3D = stereovision). Untuk mencapai kemampuan ini maka harus ada kerja sama yang harmonis antara kedua mata yang tertuju pada satu objek yang menjadi pusat perhatian. Anak yang juling konstan tidak memliki penglihatan binokular atau penglihatan tiga dimensi.

3. Posisi Kepala Abnormal

Beberapa anak yang juling merubah posisi kepala (abnormal head posture) agar dapat mempertahankan kedudukan kedua mata tetap lurus tertuju pad aobjek yang menjadi pusat perhatian. Misalnya kepala miring atau memalingkan wajah (face turn/tilt/lift).

Terapi anak dengan juling terdiri dari 2 bagian:

  1. Bila ditemukan amblyopia atau mata malas maka harus diatasi terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan menutup mata yang baik untuk memaksa anak menggunakan matanya yang malas (terapi oklusi atau patching) dilakukan bergantian. Bila tajam penglihatan pada mata yang menyimpang sudah menjadi normal, maka anak telah menggunakan kedua mata secara seimbang dan juling akan terlihat bergantian pada kedua mata.
  2. Bila penglihatan mata yang malas telah membaik, baru dilakukan operasi juling untuk mengembalikan kedudukan bola mata. Diharapkan peluang berkembangnya penglihatan binocular juga tercapai bila juling ditangani pada anak usia dini.

Terapi/Pengobatan

Terapi anak dengan juling terdiri dari 2 bagian:

  1. Bila ditemukan amblyopia atau mata malas maka harus diatasi terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan menutup mata yang baik untuk memaksa anak menggunakan matanya yang malas (terapi oklusi atau patching) dilakukan bergantian. Bila tajam penglihatan pada mata yang menyimpang sudah menjadi normal, maka anak telah menggunakan kedua mata secara seimbang dan juling akan terlihat bergantian pada kedua mata.
  2. Bila penglihatan mata yang malas telah membaik, baru dilakukan operasi juling untuk mengembalikan kedudukan bola mata. Diharapkan peluang berkembangnya penglihatan binocular juga tercapai bila juling ditangani pada anak usia dini.

Fisio Care, selenggarakan Bincang Online “Latihan Visualisasi pada Anak Berkebutuhan Khusus”

FISIO CARE “Optimalisasi & Rehabilitasi Tumbuh Kembang Anak”

Menyelenggarakan Bincang Online Latihan Visualisasi pada Anak Berkebutuhan Khusus.

yang akan disenggarakan pada :

📌 Hari, tanggal : Sabtu, 10 Oktober 2020
⏰ Waktu. : 10.00 – Selesai WIB
🖥 Aplikasi : Zoom meeting

Pemateri
Khabib Abdullah, SST.FT., M.Kes.
✔️(Kaprodi. S1 Fisioterapi Univ. Muhammadiyah Surabaya)
✔️(Founder aktiFisio Surabaya)
✔️(Ketua Himpunan Fisioterapi Anak Surabaya)

Moderator
Siti Hafsoh, A.Md. FT.
(Fisioterapis – Fisio Care)

Link Pendaftaran
👉 bit.ly/webinar-fisiocare1
👉 bit.ly/webinar-fisiocare (Full)

Notice
🔴 Gratis
🔴 Kuota terbatas
🔴 Mendapatkan e-Sertifikat
🔴 Live Zoom Meeting & YouTube

More Informasi :
0812-8064-8394 (WA Only)

FASE MERANGKAK PADA BAYI

Menyaksikan pertumbuhan dan perkembangan sang buah hati memang menjadi hal yang membahagiakan. Orangtua akan menemani anak-anak dari mula mereka dilahirkan, menggendong dan menyusuinya, mengajaknya bicara dan bercanda, hingga ia mulai bisa duduk dan merangkak dan kemudian berjalan. Nah, tahukah kamu bahwa fase merangkak ini adalah fase perkembangan bayi yang penting. 

Beberapa bayi mungkin melewatkan fase merangkak, dan langsung bisa berjalan. Melansir Cogni Kids, bayi baru belajar dari usia enam bulan, atau kebanyakan pada usia 80-10 bulan. Namun hal ini bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti permukaan lantai rumah yang licin dan dingin, atau orangtua yang terlalu protektif. Padahal orangtua harus membiarkan bayi bisa merangkak, karena ada banyak manfaat yang bisa didapatkan.

Saat bayi mulai merangkak, mereka mengalami perkembangan, seperti:

  • Keterampilan Motorik Kasar. Merangkak adalah gerakan yang melibatkan lengan, kaki, atau seluruh tubuh bayi. Keterampilan-keterampilan ini penting karena mereka melatih fisik untuk dapat berjalan, berlari, dan melompat.
  • Keterampilan Motorik Halus. Merangkak juga melibatkan penguatan otot-otot kecil di tubuh seperti tangan dan jari. Otot-otot ini juga kelak berguna untuk memahami hal-hal lain, menggerakkan mulut atau mengunyah, dan bahkan memakai pakaian.
  • Keseimbangan. Saat mulai merangkak, bayi mencapai keseimbangan tubuhnya. Ini adalah persyaratan fisik yang penting bagi bayi untuk mengumpulkan rasa percaya diri dan kemampuan untuk melangkah ke fase berikutnya yaitu berjalan.
  • Koordinasi Tangan, Kaki, dan Mata. Mata berguna untuk mengarahkan perhatian dan tangan untuk melaksanakan tugas. Koordinasi keduanya penting untuk bayi kelak saat belajar menulis dan menendang bola.

Cara Membantu Bayi Belajar Merangkak

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua dalam membantu bayinya belajar merangkak, yaitu:

  • Luangkan waktu untuk tummy time atau tengkurap
    Hal ini sangat penting karena posisi tengkurap dapat menguatkan seluruh otot pada tubuh bayi, terutama leher, bahu, dan kepala yang nantinya dapat membantu ia belajar merangkak.
  • Ajari bayi meraih objek atau benda yang ditempatkan di sekitarnya.
    Bisa dimulai dengan meletakkan mainan atau benda yang ia suka di tempat yang tidak jauh dari jankauannya, kemudian pancing ia untuk meraih benda tersebut. Hal ini dapat membantu perkembangan motoriknya. Namun, pastikan tidak ada benda berbahaya di sekitarnya
  • Singkirkan semua barang yang dapat berbahaya untuk bayi
    Pastikan tidak ada barang yang berpotensi membahayakan atau membuat bayi cedera, sewaktu belajar merangkak. Misalnya furnitur dan barang berbahan kaca, keras, atau berat.
  • Hindari baby walker
    Baby walker merupakan alat yang dirancang untuk memudahkan bayi berjalan. Namun, penggunaan alat ini juga berisiko besar menyebabkan bayi cedera, terutama jika tidak diawasi penuh oleh orang tua.

Merangkak merupakan salah satu proses tumbuh kembang bayi yang perlu diperhatikan orang tua. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter atau terapis, jika bayi tampak mengalami keterlambatan atau kesulitan merangkak.